KARIR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
PENDAHULUAN
Pada masa lalu,
istilah karir cukup asing dan hanya diperbincangkan pada kalangan tertentu
seperti kalangan orang-orang yang bergelar sarjana, pejabat publik atau
orang-orang memegang jabatan tertentu bahkan menyempit pada mereka yang
bergelut di bidang bisnis, pemerintahan dan birokrasi. Reduksi esensi karir
lainnya adalah berupa pandangan bahwa karir identik dengan kenaikan pangkat
atau golongan secara reguler dan puncak karir terjadi ketika seseorang memegang
jabatan terentu.
Sebagian besar
orang menganggap bahwa karir sebagai titik dalam kehidupan dan sebagian lagi
mengartikan sebagai perubahan posisi di tempat kerja. Bila posisinya naik maka
dianggap karirnya cemerlang dan bila posisinya turun dianggap karirnya suram.
Adapula orang yang memaknai karir sebagai pekerjaan yang ditangani saat ini.
Pekerjaan (occupation,
vocation, career) merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan
manusia dewasa yang sehat, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Betapa
orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang
jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang
mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan.
Secara sos,ial
orang yang bekerja biasanya mendapat status sosial yang lebih terhormat
daripada yang tidak bekerja. Lebih jauh lagi orang yang memiliki pekerjaan
secara psikologis akan meningkatkan harga diri dan kompetensi diri. Pekerjaan
juga dapat menjadi wahana yang subur untuk mengaktualisasikan segala potensi
yang dimiliki individu.
Sehubungan dengan masalah karir, beberapa
pertanyaan muncul antara lain:
1.
Bagaimanakah
seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai ?
2.
Bagaimanakah
menyeseuaikan antara kemampuan diri dengan jenis pekerjaan?
3.
Bagaimanakah
cara untuk mengetahui berbagai jenis pekerjaan?
4.
Bagaimanakah
cara menyiapkan diri untuk meniti karir dan masa depan?
5.
Apakah kegiatan
seseorang saat ini akan berpengaruh terhadap karirnya di masa mendatang?
PEMBAHASAN
Sejatinya,
karir memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada pekerjaan
semata atau sebagai pekerjaan yang sedang ditangani saat ini. Karir sekedar
perubahan posisi di tempat kerja. Jika demikian, apa yang dimaksud dengan
karir? Apakah karir itu penting dalam kehidupan manusia?
Pekerjaan tidak
serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment)
menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson,
1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau
jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi
seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya
hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan
persiapan dan perencanaan yang matang dari pada kalau sekedar mendapat
pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.
Karir dapat dikatakan
sebagai rentangan aktifitas pekerjaanyang saling berhubungan; dalam hal ini
seseorang memajukan kehidupannya dengan melibatkan berbagai perilaku, kemampuan
sikap, kebutuhan, aspirasi dan cita-cita sebagai satu rentang hidupnya sendiri
(the span of one’s life) (Muray, 1983). Definisi ini memandang karir
sebagai rentangan aktifitas pekerjaan karena adanya kekuatan dari dalam diri
seseorang (inner person). Perilaku yang tampak karena adanya motivasi ,
kemampuan, sikap, kebutuhan, aspirasi dan cita-cita sebagai modal dasar bagi
karir individu. Itulah yang oleh Healy (1982) disebut sebagai kekuatan karir (power
of career). Kekuatan karir ini akan tampak dalampenguasaan sejumlah
kompetensi (fisik, sosial
intelektual,spiritual) yang mendukung kesuksesan individu dalam
karirnya. Sukses karir juga dapat dicapai melalui pendidikan, hobi, profesi,
sosial pribadi dan religi. Karir mencakup seluruh aspek kehidupan individu,
yaitu meliputi:
1. Peran-peran hidup (life roles) seperti sebqagai pekerja, anggpta
keluarga dan warga masyarakat
2. Adegan-adegan kehidupan ( life settings)
seperti dalam keluarga, lembaga masyarakat, sekolah atau pekerjaan
3. Peristiwa kehidupan (life events) seperti dalam memasuki pekerjaan,
perkawinan, pindah tugas, kehilangan pekerjaan atau mengundurkan diri dari
suatu pekerjaan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karir
merupakan perwujudan diri yang bermakna melalui serangkaian aktifitas dan
mencakup seluruh aspek kehidupan yang terwujud karena adanya kekuatan inner
person. Perwujudan diri akan bermakna manakala ada kepuasan/ kebahagiaan
diri dan lingkungan.
Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia,
maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari
depan yang lebih cerah, dengan cara memberikan pendidikan dan bimbingan karier
yang berkelanjutan.
Tahap-tahap Perkembangan Karier
Menurut
Ginzberg, Axelrad, dan Herma (1951)
perkembangan karier dibagi menjadi 3 (tiga) tahap pokok, yaitu:
1. Tahap Fantasi : 0 – 11 tahun (masa balita dan masa Sekolah Dasar)
Pada tahap fantasi anak sering kali menyebutkan cita-cita mereka
kelak kalau sudah besar, misalnya ingin menjadi dokter, ingin menjadi petani,
pilot pesawat, guru, tentara, dan lain-lain. Mereka juga senang bermain peran
(misalnya bermain dokter-dokteran, bermain jadi guru, bermain jadi polisi, dan
lain-lain) sesuai dengan peran-peran yang mereka lihat di lingkungan mereka.
Jabatan atau pekerjaan yang mereka inginkan atau perankan pada umumnya masih
sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya dari TV, video, majalah, atau
tontonan maupun tokoh-tokoh yang pernah melintas dalam kehidupan mereka. Maka
tidak mengherankan jika pekerjaan ataupun jabatan yang mereka sebut masih jauh
dari pertimbangan rasional maupun moral. Mereka memang asal sebut saja
pekerjaan yang dirasa menarik saat itu. Dalam tahap ini anak belum mampu
memilih jenis pekerjaan/jabatan secara rasional dan obyektif, karena mereka
belum mengetahui bakat, minat, dan potensi mereka yang sebenarnya. Mereka
sekedar berfantasi saja secara bebas, yang sifatnya sama sekali tidak mengikat.
2. Tahap Tentatif : 12 – 18 tahun (masa Sekolah Menengah)
Pada tahap
tentatif anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki minat dan kemampuan yang
berbeda satu sama lain. Ada yang lebih berminat di bidang seni, sedangkan yang
lain lebih berminat di bidang olah raga. Demikian juga mereka mulai sadar bahwa
kemampuan mereka juga berbeda satu sama lain.
Tahap tentatif ini
dibagi menjadi 4 (empat) sub tahap, yakni:
1)
Sub tahap minat
(Interest);
Pada sub tahap ini (11-12 tahun) anak cenderung malakukan
pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan hanya yang sesuai dengan minat dan
kesukaan mereka saja
2)
Sub tahap
Kapasitas/ kemampuan (Capacity);
Sub tahap ini (13-14 tahun) anak mulai melakukan pekerjaan/kegiatan
didasarkan pada kemampuan masing-masing, di samping minat dan kesukaannya.
3)
Sub tahap Nilai
(Values) dan
Pada sub tahap nilai (15-16 tahun) anak sudah bisa membedakan mana
kegiatan/pekerjaan yang dihargai oleh masyarakat, dan mana yang kurang
dihargai.
4)
Sub tahap
Transisi (Transition).
Pada sub tahap transisi (17-18 tahun) anak sudah mampu memikirkan
atau "merencanakan" karier mereka berdasarkan minat, kamampuan dan nilai-nilai
yang ingin diperjuangkan.
3. Tahap Realistis : 19 – 25 tahun (masa Perguruan Tinggi)
Pada usia perguruan tinggi (18 tahun ke atas) remaja memasuki tahap
reasiltis, di mana mereka sudah mengenal secara lebih baik minat-minat,
kemampuan, dan nilai-nilai yang ingin dikejar. Lebih lagi, mereka juga sudah
lebih menyadari berbagai bidang pekerjaan dengan segala konsekuensi dan
tuntutannya masing-masing. Oleh sebab itu pada tahap realistis seorang remaja
sudah mampu membuat perencanaan karier secara lebih rasional dan obyektif.
Tahap realistis dibagi menjadi 3 (tiga) sub-tahap, yaitu:
1) Eksplorasi (exploration),
Pada tahap ini, umumnya remaja mulai menerapkan pilihan-pilihan
yang dipikirkan pada tahap tentatif akhir. Mereka menimbang-nimbang beberapa
kemungkinan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan bakat, minat, serta
nilai-nilai mereka, namun mereka belum berani mengambil keputusan tentang
pekerjaan mana yang paling tepat. Dalam hal ini termasuk di dalamnya masalah
memilih sekolah lanjutan yang sekiranya sejalan dengan karier yang akan mereka
tekuni.
2) Kristalisasi (chystallization), dan
Tahap ini remaja mulai merasa mantap dengan
pekerjaan/karier tertentu. Berkat pergaulan yang lebih luas dan kesadaran diri
yang lebih mendalam, serta pengetahuan akan dunia kerja yang lebih luas, maka
remaja makin terarah pada karier tertentu meskipun belum mengambil keputusan
final.
3) Spesifikasi/penentuan (specification).
Pada sub tahap spesifikasi remaja sudah mampu mengambil keputusan
yang jelas tentang karier yang akan dipilihnya.
Ginzberg (1972)
menegaskan bahwa proses pilihan karier itu terjadi sepanjang hidup manusia,
artinya bahwa suatu ketika dimungkinkan orang berubah pikiran. Hal ini berarti
bahwa pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia. Di
samping itu Ginzberg juga menyadari bahwa faktor peluang/kesempatan memegang
peranan yang amat penting. Meskipun seorang remaja sudah menentukan pilihan
kariernya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau
peluang/kesempatan untuk bekerja pada bidang itu tertutup karena "tidak
ada lowongan", maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa
terwujud.
Tokoh lain yang
banyak membahas masalah perkembangan kerier adalah Donald Super.
Menurut Super perkembangan karier manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu:
Menurut Super perkembangan karier manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu:
1.
Fase
pengembangan (Growth) yang meliputi masa kecil sampai usia 15 tahun.
Dalam fase ini anak mengembangkan
bakat-bakat, minat, kebutuhan, dan potensi, yang akhirnya dipadukan dalam
struktur konsep diri (self-concept structure);
2.
Fase eksplorasi
(exploration) antara umur 16-24 tahun
Saat ini remaja mulai memikirkan
beberapa alternatif pekerjaan tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat;
3.
Fase pemantapan
(establishment), antara umur 25 – 44 tahun.
Pada fase ini seseorang sudah
memilih karier tertentu dan mendapatkan berbagai pengalaman positif maupun
negatif dari pekerjaannya. Dengan pengalaman yang diperoleh, ia lalu bisa
menentukan apakah ia akan terus dengan karier yang telah dijalani atau berubah
haluan.
4.
Fase pembinaan
(maintenance) antara umur 44 – 65 tahun,
Fase dimana orang sudah mantap
dengan pekerjaannya dan memeliharanya agar dia bertekun sampai akhir;
5.
Fase kemunduran
(decline),
Adalah masa sesudah pensiun atau
melepaskan jabatan tertentu. Dalam fase ini orang membebaskan diri dari dunia
kerja formal.
Pemaparan dari dua
tokoh di atas, Ginzberg dan Donald Super, menunjukkan bahwa karier adalah
permasalahan sepanjang hidup. Maka ada pepatah yang mengatakan bahwa karier itu
merupakan persoalan sejak lahir sampai mati 'from the birth unto the death'
atau 'from the womb to tomb' (dari kandungan sampai kuburan).
Karir merupakan salah satu
aspek terpenting dalam kehidupan manusia, maka perlu direncanakan secara
matang. Karir adalah permasalahan sepanjang hidup manusia. Pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia.
Dengan bimbingan karir
dipandang sangat penting untuk dilaksanakan di sekolah sejak dini, sejak anak
duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan diharapkan dapat membantu
siswa memperoleh pemahaman diri, lingkungan kerja, dan dunia kerja agar dapat
mengarahkan dirinya ke suatu bidang pekerjaan yang sesuai dan selaras dengan
dirinya dan kebutuhan masyarakat.