Selasa, 26 April 2016

KARIR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

KARIR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA


PENDAHULUAN

Pada masa lalu, istilah karir cukup asing dan hanya diperbincangkan pada kalangan tertentu seperti kalangan orang-orang yang bergelar sarjana, pejabat publik atau orang-orang memegang jabatan tertentu bahkan menyempit pada mereka yang bergelut di bidang bisnis, pemerintahan dan birokrasi. Reduksi esensi karir lainnya adalah berupa pandangan bahwa karir identik dengan kenaikan pangkat atau golongan secara reguler dan puncak karir terjadi ketika seseorang memegang jabatan terentu.
Sebagian besar orang menganggap bahwa karir sebagai titik dalam kehidupan dan sebagian lagi mengartikan sebagai perubahan posisi di tempat kerja. Bila posisinya naik maka dianggap karirnya cemerlang dan bila posisinya turun dianggap karirnya suram. Adapula orang yang memaknai karir sebagai pekerjaan yang ditangani saat ini.
Pekerjaan (occupation, vocation, career) merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dewasa yang sehat, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Betapa orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan.
Secara sos,ial orang yang bekerja biasanya mendapat status sosial yang lebih terhormat daripada yang tidak bekerja. Lebih jauh lagi orang yang memiliki pekerjaan secara psikologis akan meningkatkan harga diri dan kompetensi diri. Pekerjaan juga dapat menjadi wahana yang subur untuk mengaktualisasikan segala potensi yang dimiliki individu.
Sehubungan dengan masalah karir, beberapa pertanyaan muncul  antara lain:
1.      Bagaimanakah seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai ?
2.      Bagaimanakah menyeseuaikan antara kemampuan diri dengan jenis pekerjaan?
3.      Bagaimanakah cara untuk mengetahui berbagai jenis pekerjaan?
4.      Bagaimanakah cara menyiapkan diri untuk meniti karir dan masa depan?
5.      Apakah kegiatan seseorang saat ini akan berpengaruh terhadap karirnya di masa mendatang?                                                                               
PEMBAHASAN
Sejatinya, karir memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada pekerjaan semata atau sebagai pekerjaan yang sedang ditangani saat ini. Karir sekedar perubahan posisi di tempat kerja. Jika demikian, apa yang dimaksud dengan karir? Apakah karir itu penting dalam kehidupan manusia?
Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson, 1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang dari pada kalau sekedar mendapat pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.
Karir dapat dikatakan sebagai rentangan aktifitas pekerjaanyang saling berhubungan; dalam hal ini seseorang memajukan kehidupannya dengan melibatkan berbagai perilaku, kemampuan sikap, kebutuhan, aspirasi dan cita-cita sebagai satu rentang hidupnya sendiri (the span of one’s life) (Muray, 1983). Definisi ini memandang karir sebagai rentangan aktifitas pekerjaan karena adanya kekuatan dari dalam diri seseorang (inner person). Perilaku yang tampak karena adanya motivasi , kemampuan, sikap, kebutuhan, aspirasi dan cita-cita sebagai modal dasar bagi karir individu. Itulah yang oleh Healy (1982) disebut sebagai kekuatan karir (power of career). Kekuatan karir ini akan tampak dalampenguasaan sejumlah kompetensi (fisik, sosial  intelektual,spiritual) yang mendukung kesuksesan individu dalam karirnya. Sukses karir juga dapat dicapai melalui pendidikan, hobi, profesi, sosial pribadi dan religi. Karir mencakup seluruh aspek kehidupan individu, yaitu meliputi:
1.      Peran-peran hidup (life roles) seperti sebqagai pekerja, anggpta keluarga dan warga masyarakat
2.      Adegan-adegan kehidupan ( life settings)  seperti dalam keluarga, lembaga masyarakat, sekolah atau pekerjaan
3.      Peristiwa kehidupan (life events) seperti dalam memasuki pekerjaan, perkawinan, pindah tugas, kehilangan pekerjaan atau mengundurkan diri dari suatu pekerjaan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karir merupakan perwujudan diri yang bermakna melalui serangkaian aktifitas dan mencakup seluruh aspek kehidupan yang terwujud karena adanya kekuatan inner person. Perwujudan diri akan bermakna manakala ada kepuasan/ kebahagiaan diri dan lingkungan.
Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia, maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari depan yang lebih cerah, dengan cara memberikan pendidikan dan bimbingan karier yang berkelanjutan.

Tahap-tahap Perkembangan Karier
Menurut Ginzberg,  Axelrad, dan Herma (1951) perkembangan karier dibagi menjadi 3 (tiga) tahap pokok, yaitu:
1.      Tahap Fantasi : 0 – 11 tahun (masa balita dan masa Sekolah Dasar)
Pada tahap fantasi anak sering kali menyebutkan cita-cita mereka kelak kalau sudah besar, misalnya ingin menjadi dokter, ingin menjadi petani, pilot pesawat, guru, tentara, dan lain-lain. Mereka juga senang bermain peran (misalnya bermain dokter-dokteran, bermain jadi guru, bermain jadi polisi, dan lain-lain) sesuai dengan peran-peran yang mereka lihat di lingkungan mereka. Jabatan atau pekerjaan yang mereka inginkan atau perankan pada umumnya masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya dari TV, video, majalah, atau tontonan maupun tokoh-tokoh yang pernah melintas dalam kehidupan mereka. Maka tidak mengherankan jika pekerjaan ataupun jabatan yang mereka sebut masih jauh dari pertimbangan rasional maupun moral. Mereka memang asal sebut saja pekerjaan yang dirasa menarik saat itu. Dalam tahap ini anak belum mampu memilih jenis pekerjaan/jabatan secara rasional dan obyektif, karena mereka belum mengetahui bakat, minat, dan potensi mereka yang sebenarnya. Mereka sekedar berfantasi saja secara bebas, yang sifatnya sama sekali tidak mengikat.
2.      Tahap Tentatif : 12 – 18 tahun (masa Sekolah Menengah)
Pada tahap tentatif anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki minat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Ada yang lebih berminat di bidang seni, sedangkan yang lain lebih berminat di bidang olah raga. Demikian juga mereka mulai sadar bahwa kemampuan mereka juga berbeda satu sama lain.
Tahap tentatif ini dibagi menjadi 4 (empat) sub tahap, yakni:
1)      Sub tahap minat (Interest);
Pada sub tahap ini (11-12 tahun) anak cenderung malakukan pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan hanya yang sesuai dengan minat dan kesukaan mereka saja
2)      Sub tahap Kapasitas/ kemampuan (Capacity);
Sub tahap ini (13-14 tahun) anak mulai melakukan pekerjaan/kegiatan didasarkan pada kemampuan masing-masing, di samping minat dan kesukaannya.
3)      Sub tahap Nilai (Values) dan
Pada sub tahap nilai (15-16 tahun) anak sudah bisa membedakan mana kegiatan/pekerjaan yang dihargai oleh masyarakat, dan mana yang kurang dihargai.
4)      Sub tahap Transisi (Transition).
Pada sub tahap transisi (17-18 tahun) anak sudah mampu memikirkan atau "merencanakan" karier mereka berdasarkan minat, kamampuan dan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan.
3.      Tahap Realistis : 19 – 25 tahun (masa Perguruan Tinggi)
Pada usia perguruan tinggi (18 tahun ke atas) remaja memasuki tahap reasiltis, di mana mereka sudah mengenal secara lebih baik minat-minat, kemampuan, dan nilai-nilai yang ingin dikejar. Lebih lagi, mereka juga sudah lebih menyadari berbagai bidang pekerjaan dengan segala konsekuensi dan tuntutannya masing-masing. Oleh sebab itu pada tahap realistis seorang remaja sudah mampu membuat perencanaan karier secara lebih rasional dan obyektif. Tahap realistis dibagi menjadi 3 (tiga) sub-tahap, yaitu:
1)      Eksplorasi (exploration),
Pada tahap ini, umumnya remaja mulai menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada tahap tentatif akhir. Mereka menimbang-nimbang beberapa kemungkinan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan bakat, minat, serta nilai-nilai mereka, namun mereka belum berani mengambil keputusan tentang pekerjaan mana yang paling tepat. Dalam hal ini termasuk di dalamnya masalah memilih sekolah lanjutan yang sekiranya sejalan dengan karier yang akan mereka tekuni.
2)      Kristalisasi (chystallization), dan
Tahap ini remaja mulai merasa mantap dengan pekerjaan/karier tertentu. Berkat pergaulan yang lebih luas dan kesadaran diri yang lebih mendalam, serta pengetahuan akan dunia kerja yang lebih luas, maka remaja makin terarah pada karier tertentu meskipun belum mengambil keputusan final.

3)      Spesifikasi/penentuan (specification).
Pada sub tahap spesifikasi remaja sudah mampu mengambil keputusan yang jelas tentang karier yang akan dipilihnya.

Ginzberg (1972) menegaskan bahwa proses pilihan karier itu terjadi sepanjang hidup manusia, artinya bahwa suatu ketika dimungkinkan orang berubah pikiran. Hal ini berarti bahwa pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia. Di samping itu Ginzberg juga menyadari bahwa faktor peluang/kesempatan memegang peranan yang amat penting. Meskipun seorang remaja sudah menentukan pilihan kariernya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau peluang/kesempatan untuk bekerja pada bidang itu tertutup karena "tidak ada lowongan", maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa terwujud.
Tokoh lain yang banyak membahas masalah perkembangan kerier adalah Donald Super.
Menurut Super perkembangan karier manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu:
1.      Fase pengembangan (Growth) yang meliputi masa kecil sampai usia 15 tahun.
Dalam fase ini anak mengembangkan bakat-bakat, minat, kebutuhan, dan potensi, yang akhirnya dipadukan dalam struktur konsep diri (self-concept structure);
2.      Fase eksplorasi (exploration) antara umur 16-24 tahun
Saat ini remaja mulai memikirkan beberapa alternatif pekerjaan tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat;
3.      Fase pemantapan (establishment), antara umur 25 – 44 tahun.
Pada fase ini seseorang sudah memilih karier tertentu dan mendapatkan berbagai pengalaman positif maupun negatif dari pekerjaannya. Dengan pengalaman yang diperoleh, ia lalu bisa menentukan apakah ia akan terus dengan karier yang telah dijalani atau berubah haluan.
4.      Fase pembinaan (maintenance) antara umur 44 – 65 tahun,
Fase dimana orang sudah mantap dengan pekerjaannya dan memeliharanya agar dia bertekun sampai akhir;
5.      Fase kemunduran (decline),
Adalah masa sesudah pensiun atau melepaskan jabatan tertentu. Dalam fase ini orang membebaskan diri dari dunia kerja formal.

Pemaparan dari dua tokoh di atas, Ginzberg dan Donald Super, menunjukkan bahwa karier adalah permasalahan sepanjang hidup. Maka ada pepatah yang mengatakan bahwa karier itu merupakan persoalan sejak lahir sampai mati 'from the birth unto the death' atau 'from the womb to tomb' (dari kandungan sampai kuburan).

KESIMPULAN
Karir merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, maka perlu direncanakan secara matang. Karir adalah permasalahan sepanjang hidup manusia. Pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia.

Dengan bimbingan karir dipandang sangat penting untuk dilaksanakan di sekolah sejak dini, sejak anak duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan diharapkan dapat membantu siswa memperoleh pemahaman diri, lingkungan kerja, dan dunia kerja agar dapat mengarahkan dirinya ke suatu bidang pekerjaan yang sesuai dan selaras dengan dirinya dan kebutuhan masyarakat.