Rabu, 17 Februari 2016

PENDEKATAN REBT DENGAN TEKNIK KOGNITIF DALAM KONSELING KELOMPOK DI SEKOLAH

PENDEKATAN REBT DENGAN TEKNIK KOGNITIF

DALAM KONSELING KELOMPOK DI SEKOLAH

PENDAHULUAN

A.    Pengantar
Jumlah konselor di sebagian besar sekolah di Indonesia tidak sepadan dengan jumlah siswanya. Hal ini merepotkan konselor dalam membantu permasalahan yang dihadapi siswa.
Konseling kelompok dengan teknik kognitif - REBT merupakan solusi untuk mengatasi kekurangan konselor dalam penanganan permasalahan siswa lebih banyak dan lebih terarah dan dapat memberdayakan konseli.

B.     Argumentasi
REBT is also suitable for group theraphy because the members are taught to apply its principles to one another in the group setting. Ellis recommends that most clients experience group theraphy as well as individual theraphy at some point. This form of group theraphy focuses on specific techniques for changing a client’s self-defeating thoughts in various concrete situation. In addition to madifying beliefs, this approach helps group member see how their beliefs influence what they feel and what they do.(Corey, 2009, p.286).


C.    Analisa
Permasalahan yang sering ditemui di sekolah diantaranya adalah masalah pembelajaran yang berhubungan dengan prestasi belajar. Salah satu penyebabnya adalah adanya pemikiran irasional pada diri siswa terhadap kemampuannya dan kecenderungan untuk mudah berputus asa ketika menghadapi masalah dalam meraih prestasi belajar. Rendahnya nilai yang diperoleh secara berulang-ulang menjadi dasar pemikiran bahwa mereka tidak pintar dan selalu gagal sehingga mereka tidak bersemangat dalam proses pembelajaran.
Permasalahan yang muncul dan dialami individu dalam pandangan REBT diakibatkan karena sistem keyakinan yang irasional. Diperlukan usaha yang mampu mengubah keyakinan yang irasional menjadi lebih rasional.
“REBT merupakan pendekatan kognitif-behavioral. Dalam proses konselingnya, REBT berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku individu yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga fokus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu”.(Gantina K, M.Psi. dkk, 2011, p.201).
“Dengan melakukan konseling kelompok, konseli juga dapat belajar dari sesama konseli dan dari konselor tentang berbagai keterampilan dalam pemecahan masalahnya yang pernah dilakukan oleh sesama konseli dan konselor, mendapat masukan dan pandangan berbeda tentang masalah yang sedang dialami serta dapat belajar dari masalah  yang dialami oleh sesama konseli”. (Modul PLPG, 2012, p.159).
Kedua pendapat di atas menjadi pedoman bagi penulis dalam menganalisa pendekatan REBT dengan teknik kognitif dalam konseling kelompok karena teknik ini berupaya merubah dan menghilangkan pola fikir yang irasional menjadi rasional. Konselor dapat memberdayakan potensi siswa dengan melibatkan semua anggota dalam kegiatan konseling. Pendekatan ini sangat efektif dalam upaya membantu siswa mengatasi masalah pembelajaran karena dalam proses konseling kelompok, anggota  kelompok memiliki kesempatan untuk mengungkapkan permasalahannya, pemikiran, perasaan dan mendapat dorongan dari sesama anggota kelompok sehingga para anggota kelompok menemukan lebih banyak hal dalam dirinya dibandingkan sebelum mengikuti kegiatan ini, bahkan alternatif pemecahan masalah bisa dihadirkan oleh anggota kelompok.
Selain itu, konseling kelompok dengan pendekatan REBT juga dapat membantu permasalahan siswa di sekolah yang berkaitan dengan permasalahan lain seperti yang ditulis dalam  junal  penelitian oleh Suhendri, Sugiharto dan Suwarjo (2012)  dengan judul penelitian “Efektifitas Konseling Kelompok Rational Emotif Untuk Membantu Siswa Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian” menunjukan bahwa intensitas kondisi siswa terhadap kecemasan berbeda secara nyata sebelum dan sesudah diberikan perlakuan yaitu konseling dengan mengunakan pendekatan konseling kelompok rasional emotif. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig < 0,05. Dengan demikian konseling kelompok rasional emotif efektif untuk membantu mengatasi kecemasan siswa dalam menghadapi ujian praktik. Berdasarkan hasil penyebaran skala kecemasan kepada 30 siswa, ditemukan 67 % siswa yang menyatakan cemas dalam menghadapi ujian praktik. Konseling kelompok rasional emotif efektif untuk membantu siswa mengatasi kecemasan dalam menghadapi ujian praktik. Hal ini terbukti dari nilai uji Z sebesar -2.371 dengan nilai signifikan 0.018. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan < 0.05 artinya hasil akhir penelitian ini menunjukan bahwa ada perubahan, sebelum dan sesudah diberikan perlakuan konseling kelompok rasional emotif.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Desi Dwi Haryanti (2013) dengan judul “Penerapan Konseling Kelompok Rational Emotive Behavioral Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII G SMP Yayasan Pendidikan 17 Surabaya” bertujuan untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok dengan pendekatan REBT sebagai bentuk perlakuan dengan subyek penelitian tujuh siswa kelas VIII G. Konseling kelompok diberikan dalam enam tahapan yaitu (1) bekerja sama dengan konseli (2) melakukan asesmen terhadap masalah, orang dan situasi (3) mempersiapkan konseli untuk terapi (4) mengimplementasi program penanganan (5) mengevaluasi kemajuan (6)mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling. Dari hasil penelitiannya dengan penerapan konseling kelompok REBT melalui enam tahapan tersebut disimpulkan bahwa siswa dapat memiliki persepsi kognitif yang lebih rasional, lebih aktif dalam kegiatan belajar dan merasa lebih senang dalam belajar.
Penelitian (tesis) Adik Hermawan (2014) dengan judul “Konseling Kelompok REBT Berbasis Islam Untuk Meningkatkan Self Efficacy Peserta Didik MTs Nurul Huda Demak” dengan subyek penelitian 16 peserta didik kelas VIII yang dibagi dalam dua kelompok. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya memasukkan unsur-unsur keislaman dalam teknik pelaksanaannya dengan cara meodifikasi unsur-unsur keislaman seperti Tazkiyyatunnufus (penyucian diri) untuk membentuk sikap yang sesuai dengan ajaran Islam.  Hasil penelitian membuktikan bahwa konseling REBT berbasis Islam efektif digunakan untuk meningkatkan self efficacy peserta didik.
Jurnal yang berjudul “Penerapan Konseling Kelompok Kognitif-Perilaku Untuk Menurunkan Perilaku Prokratinasi Siswa” oleh Husni Abdillah dan Diana Rahmasari. Ada perbedaan yang signifikan pada skor  prokratinasi siswa sebelum dan sesudah diterapkan konseling kelompok kognitif-perilaku” Peneliti menyimpulkan bahwa konseling kelompok kognitif perilaku dapat diterapkan untuk membantu siswa menangani prokrastinasi siswa.
Penelitian yang berjudul “Konseling Kelompok dengan Teknik Restrukturisasi Kognitif Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa” oleh Mastur, Sugiharto dan Sukiman (2012); Hasil penelitian menunjukkan bahwa model konseling kelompok dengan teknik restrukturisasi kognitif efektif meningkatkan kepercayaan diri siswa. Faktanya pada uji hipotesis menunjukkan bahwa semua indikator kepercayaan diri siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah mendapatkan intervensi konseling kelompok dengan teknik restrukturisasi kognitif. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa semua indikator kepercayaan diri memperoleh nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05. Dengan demikian hipotesa nol (Ho) yang berbunyi rata-rata kepercayaan diri siswa sebelum dan sesudah eksperimen adalah identitik/sama ditolak. Artinya rata-rata kepercayaan diri siswa sebelum dan sesudah intervensi terdapat perbedaan atau mengalami peningkatan.

D.    Kesimpulan
Konseling kelompok merupakan alternatif yang paling tepat untuk mengatasi minmnya jumlah konselor di sekolah. Konseling kelompok dapat membantu siswa yang menghadapi masalah di sekolah lebih banyak dan lebih terarah.
Banyak pendekatan ataupun teknik yang digunakan dalam konseling kelompok. REBT adalah pendekatan yang sangat efektif  untuk diterapkan dalam konseling kelompok karena pendekatan ini berupaya mengubah dan menghilangkan pola fikir yang irasional   menjadi rasional. Efektifitas dari penerapan pendekatan ini dapat dilihat dari perubahan perilaku dan juga perasaan individu yang telah mengikuti proses konseling.
Berbagai permasalahan yang dihadapi siswa, baik permasalahan prestasi belajar, rendahnya motivasi belajar, prokratinasi, self efficacy dan permasalahan lainnya dapat diatasi melalui pendekatan REBT dengan teknik kognitif.



Daftar Pustaka

1.      Gerald Corey, Theory and Practice of Counseling and Psychotheraphy, 8th edition, Thomson Brooks/Cole, USA 2009.
2.      Gantina K, M.Pd. dkk., Teori dan Teknik Konseling, PT. Indeks, Jakarta 2011
3.      Jurusan BK UNJ, Modul PLPG BK, Univ. Negeri Jakarta, 2012
4.      Adik Hermawan, Tesis Konseling REBT Berbasis Islam untuk Meningkatkan Self Efficacy Peserta Didik MTs. Nurul Huda Demak, Jurnal, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014
5.      Desi Dwi Haryanti, Penerapan Konseling Kelompok REBT untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Yayasan Pendidikan 17 Surabaya, Jurnal, Univ. Negeri Surabaya, 2014
6.      Suendri, dkk. Efektifitas Konseling Kelompok Rational Emotif Untuk Membantu Siswa Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian, Jurnal, Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang, 2012
7.      Husni Abdillah dan Diana Rahmasari, Penerapan Konseling Kognitif-Perilaku Untuk Menurunkan Perilaku Prakratinasi Siswa, Jurnal Online, Universitas Negeri Surabaya, 2015.
8.      Mastur,dkk, Konseling Kelompok Dengan Teknik Restrukturisasi Kognitif Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa, Jurnal, Universitas Negeri Semarang, 2012


Diposkan oleh : Zakiah.19.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar